Sudah tidak
asing ya dengar kata tersebut , Sudah
umum sekali basa basi dalam masyarakat kita ,
saya lahir di jawa biasa menyebut
diri sendiri “wong jowo”. Dalam lingkungan saya Basa basi sudah
mengakar dalam budaya sehari hari , seakan akan kalau kita tidak bisa ber basa
basi dianggap orang yang tidak sopan.
Kalau menurut
saya basa basi itu sama saya dengan BAHASA BASI atau bisa dikatakann bahasa
yang seharusnya sudah tidak kita lakukan karena sudah BASI, basa basi cenderung berpengaruh negatif
terhadap pelakunya, bagaimana tidak ,
jika kebanyakan basa basi yang dilakukan itu cenderung destruktif atau bersifat
negatif atau merendahkan diri sendiri.
Misal :
Mr.B
seorang petani yang sedang panen dan
panenya kali ini banyak
Mr. A : wah senang yang pak panennya kali ini banyak
Mr.B :
enggak pak lah , Cuma segini thok kok
Dari dialek
diatas sudah jelas sekali bahwa Mr.B
mengucapkan bahasa yang biasa disebut orang dengan basa basi ,
tidak mau mengakuai aslinya cenderung untuk merendahkan keadaan yang
sebenarnya. Memang dalam budaya jawa orang mengatakan sebenarnya tentang diri
sendiri dianggap orang yang gemede atau bahasa indonesianya sombong.
Seharusnya Mr
B tidak mengatakan seperti itu tapi bahasa yang diucapkan akan lebih baik kalau
mengatakan “Alhamdulillah pak , panen
kali ini saya dapat banyak, terima kasih pak “. bukankah kata itu sudah
wajar karena memang panennya lagi banyak kenapa harus mengatakan “ Cuma segini thok”.
Kembali lagi
ke Basa Basi .
Bahwa
sewajarnya kita sebagai manusia selalu membangun nilai positif dalam diri kita
, kita tanamkan hal hal positif kepada kita agar kita bisa maju, maju dan terus
maju. Dengan basa basi kan kita tidak menanamkan nilai positif tapi melah
menanamkan nilai negatif bagi diri kita.
Bukankan doa
yang kita panjatkan tidak selalu doa setelah kita selesai solat. Kata kata kita , perbuatan kita , tingkah
laku kita juga merupakah bagian dari doa itu sendiri ?
Lah terus
kalau kita selalu melestarikan kata kata basa basi ? bukankan itu juga doa ?
Doa yang jelek
tentunya seperti contoh diatas Mr.B mendoakan dirinya sendiri agar panennya “Cuma segini thok” atau bisa diartikan
panennya sedikit, padahal temannya mendoakan panennya banyak. Kan jadi aneh ya.
. . . . . . . .
Satu contoh
lagi
Mr.A : Nanam Pohon Mangga ya pak ?
Mr. B : Iya ini . . ., ya itung itung buat adem adem halaman rumah
pak ?
Kenapa tidak
dijawab “ Iya pak biar besok bisa panen
mangga” kan hal wajar jawaban seperti itu.
Coba besok
kalau pohon mangganya sudah besar kalo buahnya sedikit dan hanya daunya saja
yang lebat jangan salahkan pohon, atau
dulu promosinya penjual pohon yang katanya buahnya banyak. Kan doanya sendiri
katanya menanam pohon mangga hanya untuk “adem
adem halaman rumah”, jadi opsi pohon itu bisa berbuah yang banyak bukan
merupakan prioritas utama tapi yang jadi prioritas ya daunya lebat biar halaman
rumah terasa adem. Bukan kah begitu ?
Masyarakat
modern seperti sekarang ini yang ingin maju tentunya sudah waktunya untuk
meninggalkan “Basa basi”, bicaralah apa adanya, Cuma yang diperlukan adalah
mencari kata kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan yang sebernarnya agar
tidak terjadi salah paham dengan lawan bicara kita. Mungkin itu pilihan yang
bijak untuk kita ambil dari pada kita memilih untuk ber “basa basi”. Bangun nilai nilai positif dalam diri kita agar kita
bisa terbuka untuk menerima kemajuan dalam kehidupan ini yang sangat cepat
sekali berubah.
Semoga kita
tiap hari bisa lebih maju dari hari kemarin dalam arti baik.





