"Maaf" empat huruf yang sangat sederhana tetapi akan terasa berat kita ucapkan dengan sepenuh hati, karena dengan mengucapkannya seolah olah kita merasa sedang merendahkan diri sendiri padahal sebenarnya tidak begitu. Dengan mengucapkan maaf kita tidak sedang merendahkan diri sendiri tetapi kita lagi mengembangkan jiwa ini untuk bisa tumbuh besar menuju kelapangan hati.
Pernah suatu ketika teman saya di kantor mengatakan “ entah mengapa aku
hari ini ingin meminta maaf pada semua orang-orang atau temen-temen yang aku
kenal “ , sambil menjabat tanganku dengan erat, aku hanya diam sambil membalas
jabatan tangan dengan penuh tanya dalam hati, mengapa harus meminta maaf
denganku segala ?, bukankah temanku ini dalam pergaulan sehari-hari tak pernah
berbuat salah denganku atau menyakiti hatiku, bahkan kalaupun temanku ini
pernah berbuat salah padaku tentu aku
akan selalu memaafkannya. Alloh saja memaafkan umatnya apalagi aku yang hanya
seorang makhluk yang bernama manusia.
Dan setelahnya aku merenung sebelum tidur malamku, alangkah baiknya bila
semua manusia yang hidup di dunia ini saling maaf-memaafkan dengan ikhlas
mungkin hidup ini akan damai, ah….. tapi apakah kita juga harus memaafkan gayus
sang koruptor, walahhhh..iki ora ono hubungane karo koruptor ( ini tidak ada
hubungannya antara meminta maaf dengan
korupsi ) kalau sebagai manusia tentu saja
aku memaafkan gayus, tapi biarkan hukum juga berjalan sesuai kesalahan/
kekhilafannya. Hukum ?, lalu bagaimana kalau hukum juga bisa diakali gayus….
Biarkanlah Alloh saja yang nantinya menegur gayus dan tentunya pejabat hukum
yang bisa diajak kongkalikong. Allahuma
Turjah ( Ya. Alloh atur sajalah ).
Maaf adalah hal yang sangat sulit diucapkan (kecuali pasca bulan Ramadhan
kadang diobral dalam bungkus kartu lebaran), pernah suatu ketika aku beli
sesuatu barang disebuah warung dan pemilik warung menjawab “maaf barangnya sudah
habis”, entah mengapa aku tidak kecewa dan memberi apresiasi pada pemilik
warung tersebut…hanya karena ada ucapan maaf-nya. Apakah maaf selalu diucapkan
dengan kata dan juga memberi maaf juga perlu diucapkan, semua kembali pada diri
masing-masing diucapkan baik tidak diucapkan juga baik intinya hati kita yang
mengucapkan tidak harus dengan kata (itu
menurut aku ).
Dalam hidup ini kita pastinya pernah berbuat salah baik sengaja maupun
tidak apalagi sebagai makluk social yang berhubungan satu sama lainnya maka
maaf adalah obat mujarab untuk kemuliaan hidup tapi jangan maaf dibuat sebagai
senjata lho….kok sebagai senjata ? jadi teringat teman kost dulu, dia selalu
bilang maaf kalau ada sesuatu yang menguntungkannya. “maaf rif, nanti kalau mau
keluar tolong titip belikan rokok, sekalian belikan ini…itu…dll , maaf pakai
uangmu dulu ya”. Sekali dua kali bagi saya tidak masalah tapi kalau keseringan
juga bangkrut hehehehehe….. tapi entah mengapa setelah berpisah aku jadi kangen
dengan temanku tersebut, bahkan aku selalu memaafkannya, karena teman kost tadi
bagiku juga punya sisi yang baik. (jangan dilihat dari buruknya saja, tapi sisi
baiknya juga harus diperhitungkan).
Kembali ke teman kantorku tadi ketika dia meminta maaf pada semua orang
yang dia kenal maka aku yakin setelahnya itu hatinya akan plong….sehingga beban
hatinya agak berkurang dan itu secara psikologis beban-beban hidup yang berat
agak berkurang pula….itulah nikmatnya maaf, magicnya kata m.a.a.f (tentunya
juga bagi orang yang mau memberikan maafnya). Terima kasih teman tanpa sadar
telah memberi pencerahan padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar