Jumat, 31 Mei 2013

Kok Kucing ekornya panjang ?

Coba baca dengan pelan-pelan dan direnungkan judul diatas, bukankah itu seharusnya bukan menjadi sebuah keanehan, sebuah kesalahan, sebuah dosa. Bukankah kucing ya ekornya panjang.
Tetapi ini terjadi di sebuah desa yang disitu semua kucing dipelihara oleh pihak desa , ada pengurusnya ada petugasnya untuk menangani semua kucing yang ada di desa dan tidak boleh ada kucing lain masuk kedesa tersebut.

Begini ceritanya :
Beberapa generasi yang dulu sesepuh desa rapat mengenai kucing, karena penduduk desa menyukai kucing. Dan rapat tersebut menghasilakan keputusan bahwa setiap kucing yang ada di desa ini ekornya harus dipotong tidak boleh ada kucing yang punya ekor panjang. Karena untuk membedakan dengan kucing desa tetangga. Setiap ada kucing yang lahir ekornya langsung dipotong oleh panitia desa, setelah beberapa generasi warga desa tersebut tidak mengetahui bahwa ada prosesi pemotongan ekor kucing dan yang mengetahui hanya panitia desa serta orang-orang tertentu dan informasi itu tidak boleh dibocorkan kepada warga, hanya boleh diberitahu kepada calon pengganti panitia dan pengurus desa, warga tidak ada yang berani menanyakan perihal ekor kucing itu.

Kemudian pada saat ini, jaman modern dimana arus informasi begitu cepat, era demokrasi begitu terasa, setiap orang, setiap individu, setiap warga berhak mengeluarkan pendapatnya, berhak untuk bersuara. Suatu hari ada kucing dari desa tetangga yang berhasil masuk ke desa tersebut dan terliahat oleh warga desa tersebut. Kontan saja warga jadi gempar, warga jadi gelisah, melihat ada kucing ekornya panjang, kemudian munculah pertanyaan tadi “KOK ADA KUCING EKORNYA PANJANG ?”
Banyak sekali warga merespon kalau dikumpulkan kira-kira responya begini :
      1.      Wah ada kucing siluman , masa kucing ada ekornya
      2.      Wah ada kucing jadi-jadian , masa kucing ekornya panjang
      3.      Wah ada kucing aneh , ekornya panjang dan masih banyak lainnya.

Akhirnya warga berame-rame memburu kucing tersebut untuk ditangkap, pada main hakim sendiri tanpa bertanya kepada panitia desa atau pengurus desa.
Padahal yang sebernarnya adalah kucing itu ya ada ekornya, kucing itu ya ekornya panjang, warga desa hanya salah paham karena selama ini setiap kucing yang ada di desa tersebut tidak ada ekornya.
Dari cerita diatas mungkin sangat mirip dengan keadaan sekarang , apanya yang mirip ?

Bahwa yang sebenarnya kejujuran itu sebuah kebenaran, tidak mau korupsi itu sebuah kebenaran, loyalitas itu sebuah kebenaran dan masih banyak kebenaran-kebenaran lain yang pada masa ini dianggap aneh, dianggap aliran baru, dianggap tidak mengikuti jaman, dianggap tidak punya solidaritas dengan teman dan sebagainya.

Orang tidak mau korupsi dianggap orang aneh, orang berlaku jujur katanya hancur, orang pakai jilbab sesuai aturan dianggap bi’dah dan dianggap aliran aneh, orang beribadah rutin dianggap sok –so’an, orang suka memberi dianggap pamer, orang suka menolong dianggap ada maunya dan masih banyak lagi
Bahwa pada saat ini kebenaran seperti itu sudah dianggap aneh (bahwa ada kucing ekornya panjang itu aneh) karena hanya beberapa orang saja yang tahu kebenaran  itu (hanya panitia desa saja yang tahu bahwa kucing itu ekornya panjang) yang lain tidak mau membukan hati dan pikiran untuk menerima yang baru, walaupun itu sebuah kebenaran, sudah menutup hati dan pikiran yang ada meraka sudah taklid dengan aturan yang sudah ada walaupun aturan itu bukan aturan yang seberarnya.

Kenapa begitu ? saya pernah mendengan bahwa “ KEBURUKAN DIUCAPKAN SEBAGAI KEBAIKAN SERIBU KALI MAKA AKAN MENJADI SEBUAH KEBAIKAN”  maksudnya mereka sudah tidak merasa melakukan sebuah keburukan apabila melakukan keburuan itu karena keburukan itu sudah menjadi hal yang umum dimasyarakat.


Semoga kita semua bisa menerima hal yang baru yang  merupakan kebenaran sesungguhnya, walaupun perlu banyak pengorbanan. Amiin

Rabu, 29 Mei 2013

Saya mas, kalau bekerja tidak pernah mengeluh


Itu Motor saya pada waktu di parkir, hari ini parkiran sungguh penuh sekali, matahari pun terasa tidak bersahabat , puanaaassss. Tetapi ada hal lain yang membuat hati ini terasa sejuuuuuuuuuuuk, yaitu pada saat setelah motor saya dikeluarkan dari tempat parkir saya tanya pada tukang parkirnya.

Saya                            :  pak ya capek ya mindah mindah motor kaya gitu , panas lagi tambah bapak pakai baju hitam, hitam kan menyerap panas
Bapak tukang parkir     :  saya kalau kerja tidak  pernah mengeluh mas

Itu dia “ saya kalau bekerja tidak penah mengeluh” itu kata kunci yang membuat terasa lain di hati ini.
Jika dibandingkan dengan saya, mungkin masih lebih enak pekerjaan yang saya jalani dari pada pekerjaan Bapak ini (kalau dilihat dari berpanas-panasan, mengeluarkan energi sampai berkeringat), tetapi kadang kala masih muncul keluh kesah dari mulut ini, sungguh keluh kesah yang saya ucapkan merupakan perbuatan yang tidak pantas kalau melihat bahwa masih banyak pekerjaan lain yang mungkin berpenghasilan kurang dari saya dan juga masih banyak orang diluar sana yang masih butuh perjuangan untuk mencari sebuah pekerjaan tetap.

Dalam agamapun keluh kesah tidak disarankan, yang ada kita diharuskan untuk mensyukuri nikmat yang kita terima, nikmat yang diberikan kepada kita, semakin kita bersyukur terhadap nikmat ini maka janji Allah.SWT nikmat itu akan ditambah, ya ditambah.

Dan yang  penting lagi saya ingin berusaha memahami bahwa nikmat itu bukan hanya sebatas materi belaka (harta kekayaan) ada kesehatan, keamanan, kenyamanan, kebahagiaan dan sebagainya.

Semoga apa yang saya alami hari ini bisa terus menerus mengingatkan kembali untuk tidak selalu mengeluhkan kehidupan ini.

Rumah itu tidak jadi milikku

Sekitar 2 bulan yang lalu saya ditawari sebuah rumah, maklum saat ini saya masih nomaden atau hidupnya berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain dan itu sudah berlangsung selama 5 tahun. Dan tawaran tersebut saya respon kemudian setelah melewati beberapa kali pertemuan untuk nego masalah harga dan lain-lain sekitar 2 minggu dan sukses , akhirnya rumah itu jadi milikku dalam arti rumah itu saya beli dengan harga yang sudah disepakati bersama. Dengan surat perjanjian dan 2 orang saksi pada saat pembayaran dan dibayar tunai. Sebulan kemudian setelah perjanjian itu ditandatangani, sebagai pemilik ingin rasanya untuk membuat sertifikat tanah menjadi atas nama saya tentunya, lah disitulah terjadi masalah, pada saat mau di ukur sama petugas dari desa si pemilik lama bertingkah, dan pada saat itu juga pemilik lama minta harga dulu yang sudah disepakati dan dibuat perjanjian diatas materai dengan 2 orang saksi harus dirubah, harganya dinaikkan 90 % dari harga semula. Gilaaaaaa.. masa harga naik 90 % padahal secara hukum tanah dan rumah itu sudah jadi milik saya. Singkat kata dari setelah berproses selama hampir 10 hari saya mengalah saja , uang saya kembali 100% dan tidak jadi membeli rumah dan tanah tersebut. Setidaknya ada 2 hal yang membuat saya mengalah untuk tidak jadi membeli tanah dan rumah tersebut yaitu :
  1. Saya tidak mau rebut-ribut dengan pemilik lama karena rumah dan tanah tersebut mau saya tempati dan pemilik lama domisilinya masih satu alamat dengan rumah dan tanah itu.
  2. Dalam perjanjian yang ditandatangani kurang adanya kalimat “ Perjanjian itu dibuat dengan  penuh kesadaran dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun” itulah poin penentu kenapa saya rela mengalah, karena setalah Tanya kesana kemari , posisi saya lemah.

Akhirnya “RUMAH ITU TIDAK JADI MILIKKU” titik (sudah tidak ada lagi upaya untuk negosiasi kembali) berarti cari rumah lagi

Kadang apa yang terjadi di sekeliling kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, misalkan saya lagi ingin makan soto ayam , eee … ternyata tidak punya uang untuk membeli soto ayam tersebut walaupun harganya Rp. 5000,- . karena apa yang terjadi di sekeliling kita (contohnya kasus saya diatas) bukan sepenuhnya atas kehendak saya, ada yang mengaturnya, ada yang mengelolanya , semua berjalan sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.


Biasaya kalau keadaan sekitar tidak sesuai dengan keinginan hati maka kita merasa sedih, galau, marah, sebel, gundah dan teman-temannya. Mungkin tidak hanya saya, yang bernama manusia ada kemungkinan juga akan merasa seperti itu. Selain untuk berusaha mengubah apa yang terjadi di sekililing kita agar sesuai dengan apa yang kita harapkan tentunya kita juga harus berusaha untuk menyesuaikan keinginan dengan keadaan yang terjadi di sekililing kita. Mengubah maksudnya kita berusaha dengan kemampuan, pemikiran kita, tenaga kita untuk mencapai keingin dan menyesuaikan maksudnya kita menerima apapun yang terjadi disekeliling kita setelah maksimal mengusahakannya agar seirama dengan keinginan atau harapan.

Kamis, 23 Mei 2013

Ada jalan baru dirumah ku

Sesuai dengan kebutuhan yang semakin hari semakin  meningkat tentunya kebutuhan jalan juga perlu di perluas atau diperbanyak, begitu juga dengan mobilitas di keluarga ku semakin hari semakin padat saja, mobilitas disini bukan mobilitas lalu lalang nya orang, barang, kendaraan tetapi mobilitas yang saya maksud adalah mobilitas uang, jadi semakin kesini semakin dibutuhkan peredaran uang yang cukup, dan suplainya pun seharusnya melebihi dari yang dibutuhkan agar rutinitas dalam keluarga tidak terganggu dengan kebutuhan peredaran uang tersebut.

Sebagai ilustrasi misalnya kebutuhan akan uang 100 tetapi jalan kita hanya mampu untuk dilalui 10 uang berarti kita harus sepuluh kali jalan untuk bisa mencapai 100 itu sangat logis menurut saya. Tetapi apabila kita menambah jalan misalnya menjadi 5 jalan atau memperlebar kapasitas jalan menjadi bisa dilalui oleh 50 uang, maka kita hanya perlu 2 kali jalan untuk bisa mencapai 100. Jadi tinggal terserah pilihan kita mau menambah jalan atau melebarkan jalannya.

Kembali ke topik bahwa ini berawal dari sikap anak-anak kami yang tidak mau memakai baju seragam dari sekolah, maunya pakai baju sendiri dan parahnya lagi kalau dibelikan baju tidak mau dipakai, maunya beli kaos saja, padahal untuk sekolah tidak diperkenankan pakai kaos, minimal baju walaupun tidak seragam dengan teman-temannya.

Dari situlah istri saya mulai membuat baju untuk anak-anak kami dengan desain sendiri, semakin lama-semakin akhirnya terbiasa membuat baju untuk anak-anak. Dan jalan baru itu mulai ada sekitar beberapa minggu yang lalu diawali dari teman minta dibuatkan 3 buah baju untuk anaknya setelah baju tersebut jadi ternyata dia merasa puas dengan baju buatan istri saya dan endingnya sekarang sudah banyak yang antri minta dibuatin.

Ini dia penampakan 2 baju  yang dipesan teman :




Semoga jalan baru ini bisa mengatasi semakin padatnya mobilitas dalam keluarga kami. Dan yang lagi kesulitan dalam mengolah mobilitas keuangan sehari-hari mungkin ada baiknya menambah jalan baru lagi, semakin banyak jalan yang ada maka semakin cepat yang akan sampai kepada kita atau meningkatkan kapasitas jalan yang sudah ada, terserah pilihan anda.

Selamat ber inspirasi, semoga sukses 

Jumat, 17 Mei 2013

Mimpi


Kata tersebut sangat familiar di telinga kita, bahkan semua orang sudah tahu apa itu mimpi. Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (Wikipedia). Tetapi mimpi kali ini bukan mimpi yang seperti itu, mimpi yang saya maksud adalah visi,keingingan, harapan, cita-cita  dan teman temannya.

Kemarin saya membuktikan lagi betapa hebatnya kekuatan dari mimpi (red : visi, keingingan, harapan, cita-cita  dan teman temannya). Dulu sekitar setahun yang lalu bahkan mungkin lebih saya menciptakan mimpi saya sendiri sesuai dengan hasrat pada waktu itu, saya ulang-ulang lagi gambaran dari mimpi itu sampai membekas hingga pada kemudian hari saya lupakan mimpi itu karena seiring berjalannya waktu ada mimpi-mimpi lain yang ingin saya gapai, mimpi-mimpi lain yang ingin saja wujudkan kemudian mimpi tadi saya ganti dengan mimpi-mimpi yang baru.

Kemarin saya merasakan dan menyaksikan bahwa mimpi-mimpi saya waktu itu sekitar setahun yang lalu terbukti dan nyata-nyata terjadi pada diri saya. Sekali lagi saya merasakan betapa hari ini, saat ini, masa ini adalah buah dari masa lalu, hasil dari masa lalu kita. Subhanallah.

Mungkin ada yang tidak percaya, tetapi coba saja kita flashback lagi ke masa lalu kita, bahwa apa yang telah kita gapai, apa yang telah kita capai, apa yang telah kita miliki saat ini mulai hari handphone, rumah, kendaraan, istri, anak, bahkan kondisi pada saat ini hampir dan bahkan semuanya telah kita impikan , kita bayangkan dulu, telah ada dalam benak kita, dalam visi kita pada masa lalu walaupun mungkin sekarang kita sudah lupa akan mimpi kita yang telah lalu.

Begitu hebatnya kekuatan mimi itu maka ada baiknya kita ciptakan mimpi-mimpi kita mulai sekarang tentang apa yang akan kita inginkan mungkin 10 tahun yang akan datang kita mau seperti apa, kita mau jadi apa, kita mau mempunyai apa, kita mau punya penghasilan berapa dan lain-lain sesuaikan dengan giarah anda. Bersambung......

Selamat bermimpi, Good Luck

Selasa, 14 Mei 2013

Tetanggaku Oh Tetanggaku


Sehabis solat isya saya dan istri lagi santi di ruang tengah, biasa ngobrol-ngobrol  ringan sambil nonto acara tv. Dari luar terdengar suara agak berisik awalnya tak biarian aja tetapi kok terus menerus, akhirnya saya penasaran juga, sayapun keluar untuk mengobati rasa penasaran saya. O… ternyata tetanngga saya lagi beres-beres peralatan rumahnya dan dinaikkan truk. Saya pun akhirnya menyempatkan menyapa dengan tujuan ingin tau apa yang terjadi dan sekaligus ingin membantu apabila tenaga saya dibutuhkan.

Yang jadi aneh adalah terjadinya dua jawaban yang berbeda, pada waktu saya menanyakan kepada sang istri dan jawabannya “ saya mau pindahan  dan rumah ini sudah di kontrak sama orang”

Kemudian saya ikut membantu membawa peralatan kedalam truk dan waktu saya dekat dengan suaminya tanpa terasa saya menanyakan lagi dan jawabannya “ peralatan ini mau saya pindah ke rumah saya yang satunya dan rumah ini ya masih  di tempati saya. ini Cuma pindah peralatan saja untuk ngisi rumah saya yang disana”

Dan beberapa hari kemudian ternyata dua jawaban tersebut betul-betul tidak sesuai dengan kenyataannya. Yang benar adalah bahwa rumah tetangga saya itu dijual dan sekarang ditempati oleh pembelinya.

Sebagai gambaran tetanggaku itu sudah berumur ya kalau dilihat dari facenya sudah diatas 60 tahun. Seharusnya pernyataan dari orang yang sudah banyak pengalaman hidup kan tidak seperti itu. Sudah tidak penting lagi kamulfase, sudah tidak penting lagi berkata seperti itu. Apa memang sudah jamannya seperti itu ya , tampilan luar adalah segalanya, gengsi adalah harga mati yang penting bisa pamer lebih dari orang lain, bisa pamer mempunyai mobil lebih dari satu, sepeda motor lebih dari satu, perhiasan buanyak dan lain sebagainya.

Kalau memang sekarang jamannya sudah seperti itu, Beranikah kita untuk apa adanya ………?