Sabtu, 22 Juni 2013

Balonku ada lima

Siapa yang belum pernah dengar lagu tersebut, lagu anak-anak yang sangat popular sampai sekarang, bahkan merupakan lagu wajib bagi anak-anak ,tetapi apakah pernah terlintas bahwa dalam lagu tersebut,setidaknya menurut saya ada hal yang seharusnya tidak diajarkan kepada anak-anak kita ?.Anak-anak sangat mudah sekali menerima hal baru, dan begitu menerima langsung  apa adanya ditangkap dan akan seperti itu pula persepsi mereka.
Terus apakah yang aneh dengan lagu tersebut ?


Begini liriknya :

Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
hijau, kuning, kelabu
Merah muda dan biru
Meletus balon hijau DOR
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat

Lihat baik-baik pada bait kedua “meletus balon hijau DOR” terus berefek “hatiku sangat kacau” kenapa harus kacau balon meletus ya sudah lah tidak usah kacau lagi pula kan masih ada 4 balonnya, itu kan akan membuat pemahaman bahwa kalau kita kehilangan sesuatu hati ini harus kacau, yang parahnya lagi pada lirik selanjutnya “balonku tinggal empat kupegang erat erat” walah kacau lagi itu, kenapa harus dipegang erat-erat meletus kan tidak ada hubungan dengan dipegang talinya dengan erat.

Maksudnya bait itu mau mengatakan bahwa kalau kita kehilangan sesuatu harus gelisah, kacau, tidak menentu kondisi hatinya padahal seharusnya kan kita menerima dengan lapang dada peristiwa meletusnya balon tersebut. Kemudian kita tidak trauma dengan peristiwa itu dan kembali kenormal dengan memegang balon sisanya yang masih empat itu seperti biasa atau dibuat mainan lagi.

Apa mungkin kita ganti saja liriknya :
Meletus balon hijau DOR
Hatiku tidak apa…
Balonku tinggal empat
Kupakai main lagi…

Nah kalau lirik tersebut mengajarkan kepada anak untuk lapang dada menerima apa yang terjadi dan tidak trauma dengan kejadian yang menimpanya serta kembali normal lagi dengan bermain balon kembali yang tinggal empat itu

Sabtu, 15 Juni 2013

Standar baik itu …….. ?????????

Hari Rabu kemarin ada seseorang berkunjung kerumah, kebelulan masih saudara, kami bicara ngalor ngidul tidak karuan, lama-lama mengarah ke pembelian rumah, karena waktu itu saya sudah menawar rumah, lokasinya tidak ideal menurut umum karena jauh dari jalan besar dan akses kesana hanya gang kecil 1,5 M lebarnya, rumah baru setengah jadi, belum di plester dan masih banyak lagi mungkin baru 45% tetap sudah bisa di tinggali.

Di akhir cerita saya diharapkan membatalkan pembelian rumah tersebut karena menurut dia rumah yang mau saya beli itu tidak ideal, kalau dihitung investasipun tidak menguntungkan jadi secara garis besar rumah itu tidak baik. Tetapi itu pandangan dia kalau pandangan saya terhadap rumah itu berbeda. Menurut saya rumah itu sudah baik untuk jadi tempat tinggal. Yang menjadi kami berbeda pendapat adalah karena kami mempunyai standar yang berbeda-beda tentang idealnya sebuah rumah.
Walaupun akhirnya saya membatalkan pembelian rumah itu tetapi bukan berarti saya menerima standar yang diberikan saudara saya itu, karena bagaimanapun juga standar saya dan standar dia untuk pembelian rumah berbeda.

Bagaimana jadinya kalau saya menuruti standar nya dia, mungkin kehidupan saya terutama untuk masalah keuangan akan kacau dalam beberapa tahun kedepan karena standar dia akan mengharuskan saya untuk mengeluarkan uang jauh melebihi kemampuan saya sekarang. Jadi saya putuskan untuk tetap menggunakan standar saya karena saya tahu persis siapa saya, seberapa kemampuan saya, apa yang saya butuhkan, berapa kebutuhan saya dan lain sebagainya.

Sebagai penutup untuk kelancaran dalam kehidupan ini seyogyanya setiap kita mempunyai standar sendiri-sendiri terutama dalam masalah ekonomi, social bermasyarakat yang sudah disesuaikan dengan kondisi yang ada, alangkah baiknya kita beruasaha untuk mengikuti standar kita bukan mengikuti standar orang lain yang diluar kemampuan kita. Sangatlah rugi apabila kita mengikuti standar orang lain demi gengsi, demi harga diri, demi status social, biar dipandang orang kaya dengan membeli rumah idaman, dengan membeli mobil dan lainnya tetapi mengesampingkan kondisi kita yang sebernarnya.

Jumat, 07 Juni 2013

Nusakambangan

Selama 3 hari dari tanggan 3 – 5 Juni 2013 saya berada di Lapas Nusakambangan. Hari pertama saya berada di Lapas Batu, lapas kelas 1 di Nusakambangan, bertemu dengan para narapidana yang ada disana, saling bersapa, berbicara, bersalaman, duduk bareng dengan mereka. Rata-rata dari mereka masa hukumannya  diatas 10 tahun walau ada yang dibawah 10 tahun, yang dihukum mati pun banyak, yang dihukum seumur hidup juga tidak sedikit. Mulai dari  kasus perampokan dengan kekerasan, pembunuhan, narkoba, teroris semua ada di lapas tersebut. Yang membuat saya agak heran, umur mereka banyak yang masih muda dari kelahiran 1992, 89, 85, 87, 80, 83 dan sebagainya itu kan relatife muda. Sebelum masuk kesana saya merasa agak takut mungkin karena image bahwa orang dalam penjara itu orang yang tidak baik, orang yang jahat, tetapi ternyata mereka sangat sopan, beradap , menurut saya meraka punya perilaku yang sama dengan orang –orang yang berada diluar lapas atau ini hanya persepsi saya, karena hanya beberapa hari saja saya bersama mereka. Mungkin juga perilaku tersebut hasil dari pendidikan yang diterapkan dalam lapas.

Saya jadi teringat pada pada waktu acara  ILC (Indonesia Lawyer Club) di salah satu stasiun televisi Indonesia pembawa acaranya karni ilyas pernah mengutip kata “ Tidak Semua Orang Dalam Penjara Itu Orang Tidak Baik Begitu Pula Sebaliknya Tidak Semua Orang Diluar Penjara Itu Orang Baik”.
Ada nilai plus bagi orang yang dalam penjara setidaknya menurut saya, begini mungkin orang yang dipenjara itu pada awalnya orang baik yang melakukan tindakan tidak baik kemudian divonis oleh hakim dan berubah baik setelah nya. Itukan nilai plus

Kemudian sekarang kenyataannya orang yang diluar penjara pada awalnya adalah orang baik sebagian dari mereka melakukan tindakan tidak baik dan sampai sekarang masih melakukan tindakan tidak baik entah kapan akan berubah karena tidak ada shock terapi yang kuat untuk merubah tindakan tidak baik tersebut.

Tinggal kita sekarang yang termasuk orang diluar penjara, apakah akan tetap melakukan tindakan tidak baik nunggu nanti ada shock terapi datang entah shock terapi seperti teman-teman dilapas atau shock terapi yang lain. Ada alternative yang menyenangkan menurut saya yaitu berusahalah meninggalkan tindakan tidak baik sekarang tidak usah menunggu shock terapi datang dan nikmati hidup ini dengan melakukan tindakan-tindakan yang baik.


Nikmati kehidupan ini dengan melakukan kebaikan.

Sabtu, 01 Juni 2013

Akhirnya mata ini tidak tahan…

     Kemarin sehabis bekerja ingin rasanya mampir kerumah ibu, kira-kira sudah seminggu saya tidak main kesana, kebetulan bensin motor saya sudah limit, saya menuju penjual bensin di desa saya yang terdekat, setelah sampai saya beli 1 liter 5000 rupiah, pak bensin 1 pak, ternyata penjualnya sudah kakek-kakek, karena tidak tega, pada waktu kakek itu mau ngambil botol bensin saya menyodorkan tangan saya untuk mengabil botol tersebut dan saya tuang sendiri ke tanki bensin, setelah itu saya bayar, tidak lupa saya menanyakan kabar kepada kakek itu “keluarga pada sehat pak” terus dianya kaget, o iya sehat dan pada waktu menatap saya dia agak heran dan terus menepuk bahu saya, kemudian si kakek malah curhat kesaya begini :

Dulu mbah kamu itu banyak sekali menolong saya, pernah juga meminjami saya uang 160 rupiah, dan bla blab bla…… panjang sekali, saya ya hanya manggut-manggut saja sekedar menanggapi, sekali-kali merespon Ooo… begitu ya …., terakhir yang membuat saya tidak tahan dia mendoakan saya “ Mas pri.. semoga kamu bisa sukses, bisa hidup berkah, diberi keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat, semoga selalu  diberi kemudahan” doa itu terucap begitu tulus, expresi wajahnya pun begitu lugu, saya terharu, saya tertunduk dan Akhrinya mata ini tidak tahan membendung air mata, menetes juga. Pada waktu itu tidak ada perasaan malu meneteskan air mata di pinggir jalan. Momen itu berakhir setelah saya sadar ada 3 orang yang ngantri mau beli bensin dan memandang aneh kepada saya, entah apa yang ada di pikirannya saya tidak tahu.

Mbah saya seperti apa saya juga tidak tahu, karena begitu saya lahir mbah saya sudah tidak ada atau ada tetapi saya tidak ingat, karena masih kecil. Jaman sekarang orang seperti kakek penjual bensi itu sungguh jarang, mental-mental seperti kakek itu sudah hampir punah, bayangkan saja sama saya yang tidak pernah bercerita dengan kakek penjual bensin itu, yang beda generasi dia masih ingat bahwa dulu mbah saya pernah berjasa, pernah menolong kakek itu. Dulu kakek tersebut merupakan orang yang disegani, dihormati oleh penduduk, sekarangpun masih.

Itu yang membuat saya terharu betapa budi baik dari orang lain masih dia ingat, masih di rasakan sampai sekarang bahkan sampai ke anak cucunya, dia masih merasa dulu mbah saya pernah menolongnya. Sekali lagi sungguh-sungguh luar biasa moral, mental seperti kakek penjual bensin itu. Patut kita contoh.