Al kisah di negeri nun jauh disana ada 2 orang santri namanya senen dan
selasa lagi belajar, menjelang kelulusan gurunya memerintahkan untuk berlatih
menerapkan ilmunya di kehidupan nyata di sekitar pesantren dikasih waktu 2
bulan untuk bisa menerapkan ilmunya di masyarakat, minimal bisa berinteraksi
baik dan bisa menyesuaikan dengan kehidupan bermasyarakat untuk bisa berlatih
memecahkan masalah dan setelah 2 bulan akan dimintai laporan pertanggung
jawaban oleh gurunya karena guru tidak bisa mendampingi terus menerus selama
proses penyesuaian tersebut.
Mereka pun terjun ke masyarakat sesuai instruksi dari gurunya.
Senen seorang pemalas di pikirannya tiba-tiba muncul , “ah yang yang
penting kan nanti laporannya beres ,semua dibagus-baguskan dan kalau ditanya,
jawabannya harus meyakinkan”
Si senen akhirnya mendapat ide untuk membagi ilmunya dengan di rapel dalam
arti , dalam1 hari banyak masyarakat dikumpulkan dan pada saat itu dia ngomong
sambil membagikan ilmunya setelah itu tidak ada lagi. Dan si senen itu mengemas
laporannya sedemikian rupa dengan data-data yang lengkap, kegiatan sehari
seakan-akan bisa bermanfaat secara maksimal bagi masyarkat
Selasa beda lagi karena dia serius ingin menularkan ilmunya kepada
masyarakat walaupun itu hanya 1 atau 2 orang atau lebih sampai
benar-benar bisa paling tidak ilmunya nanti bisa bermanfaat bagi orang tersebut.
Dia serius setiap minggu mendatangi orang yang mau belajar paling telat 2
minggu dia sudah pasti mendatangi untuk sekedar melihat perkembangan atau
membagi ilmu yang baru, tetapi sayang dia lupa tidak mendokumentasikan
kegiatannya itu karena satu dan lain hal, yang jelas dia semangat sekali untuk
membuat orang tersebut lebih berdaya dari sebelumnya dengan ilmu yang
diberikan. Dengan harapan setelah selesai orang tersebut bisa mengembangkan
sendiri ilmu yang diberikan selama proses 2 bulan tersebut.
2 bulanpun sudah berlaku dan kedua santri tersebut harus bertanggungjawab
terhadap apa yang dilakukan selama 2 bulan , bisa bermanfaat apa tidak ilmu
yang diberikan.
Ternyata yang mendapat pujian dari sang guru adalah si senen yang hanya
melakukan kegiatan 1 kali karena laporannya kumplit, meyakinkan serta bisa mengeluarkan
alibi yang pas, sedangkan si selasa yang sebenarnya melakukan tugas
pendampingan selama 2 bulan dan hasilnya pun bisa dinikmati tidak hanya bagi
penerima ilmu tetapi bagi orang lain karena ternyata si penerima ilmu
memanfaatkan apa yang sudah diterimanya malah dianggap tidak berhasil karena
kurangnya laporan yang diberikan serta ketidakmampuannya untuk berdebat selama
proses pertanggungjawaban tadi. Dari kejadian tersebut akhirnya si selasa
belajar banyak hal.(tamat)
Pelajaran yang bisa diambil dari cerita diatas adalah bahwa kebenaran yang
nyata ada dan bermanfaat bisa dianggap tidak ada bahkan bidak bermanfaat sama
sekali, sebaliknya apa yang kurang bermanfaat kalau dilaporkan dengan
meyakinkan dan diikuti dengan alibi yang kuat akan dianggap bermanfaat(walaupun
kenyataannya kurang bermanfaat)
Kebetulan itu dalam proses pembelajaran dan terjadi di negeri nun jauh
disana jadi bukan merupakan masalah, tetapi kalau kita lihat pada jaman
sekarang memang sudah seperti itu, kebenaran bisa diputar balikkan menjadi
sebuah kesalahan kalau memang pelaku kebenaran itu tidak bisa
mengemukakan pendapat dengan baik serta sebuah kesalahan akan menjadi
benar apabila bisa mengemukakan alasan-alasan dengan tepat walaupun
alasan itu hanya direkasaya belaka.
Sekedar saran untuk kita semua yang sudah berbuat kebenaran secara nyata
jangan puas dulu dengan kebenaran yang betul-betul dilakukan tetapi berusahalah
untuk menjadi lebih pandai agar kenyataan-kenyataan yang telah kita lakukan
akan tetap menjadi sebuah kenyataan karena kita mampu menyusun alibi untuk mempertahankan
kenyataan itu. kalau kita tidak mampu menyusun alibi atau argumen maka
kenyataan yang ada bisa berubah menjadi kesalahan atau bisa dibilang manipulasi
saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar