Selasa, 14 Mei 2013

Tetanggaku Oh Tetanggaku


Sehabis solat isya saya dan istri lagi santi di ruang tengah, biasa ngobrol-ngobrol  ringan sambil nonto acara tv. Dari luar terdengar suara agak berisik awalnya tak biarian aja tetapi kok terus menerus, akhirnya saya penasaran juga, sayapun keluar untuk mengobati rasa penasaran saya. O… ternyata tetanngga saya lagi beres-beres peralatan rumahnya dan dinaikkan truk. Saya pun akhirnya menyempatkan menyapa dengan tujuan ingin tau apa yang terjadi dan sekaligus ingin membantu apabila tenaga saya dibutuhkan.

Yang jadi aneh adalah terjadinya dua jawaban yang berbeda, pada waktu saya menanyakan kepada sang istri dan jawabannya “ saya mau pindahan  dan rumah ini sudah di kontrak sama orang”

Kemudian saya ikut membantu membawa peralatan kedalam truk dan waktu saya dekat dengan suaminya tanpa terasa saya menanyakan lagi dan jawabannya “ peralatan ini mau saya pindah ke rumah saya yang satunya dan rumah ini ya masih  di tempati saya. ini Cuma pindah peralatan saja untuk ngisi rumah saya yang disana”

Dan beberapa hari kemudian ternyata dua jawaban tersebut betul-betul tidak sesuai dengan kenyataannya. Yang benar adalah bahwa rumah tetangga saya itu dijual dan sekarang ditempati oleh pembelinya.

Sebagai gambaran tetanggaku itu sudah berumur ya kalau dilihat dari facenya sudah diatas 60 tahun. Seharusnya pernyataan dari orang yang sudah banyak pengalaman hidup kan tidak seperti itu. Sudah tidak penting lagi kamulfase, sudah tidak penting lagi berkata seperti itu. Apa memang sudah jamannya seperti itu ya , tampilan luar adalah segalanya, gengsi adalah harga mati yang penting bisa pamer lebih dari orang lain, bisa pamer mempunyai mobil lebih dari satu, sepeda motor lebih dari satu, perhiasan buanyak dan lain sebagainya.

Kalau memang sekarang jamannya sudah seperti itu, Beranikah kita untuk apa adanya ………?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar