Sehabis solat isya saya dan istri lagi santi di ruang tengah, biasa
ngobrol-ngobrol ringan sambil nonto
acara tv. Dari luar terdengar suara agak berisik awalnya tak biarian aja tetapi
kok terus menerus, akhirnya saya penasaran juga, sayapun keluar untuk mengobati
rasa penasaran saya. O… ternyata tetanngga saya lagi beres-beres peralatan
rumahnya dan dinaikkan truk. Saya pun akhirnya menyempatkan menyapa dengan
tujuan ingin tau apa yang terjadi dan sekaligus ingin membantu apabila tenaga
saya dibutuhkan.
Yang jadi aneh adalah terjadinya dua jawaban yang berbeda, pada waktu saya
menanyakan kepada sang istri dan jawabannya “
saya mau pindahan dan rumah ini sudah di
kontrak sama orang”
Kemudian saya ikut membantu membawa peralatan kedalam truk dan waktu saya
dekat dengan suaminya tanpa terasa saya menanyakan lagi dan jawabannya “ peralatan ini mau saya pindah ke rumah
saya yang satunya dan rumah ini ya masih di tempati saya. ini Cuma pindah peralatan
saja untuk ngisi rumah saya yang disana”
Dan beberapa hari kemudian ternyata dua jawaban tersebut betul-betul tidak
sesuai dengan kenyataannya. Yang benar adalah bahwa rumah tetangga saya itu
dijual dan sekarang ditempati oleh pembelinya.
Sebagai gambaran tetanggaku itu sudah berumur ya kalau dilihat dari facenya
sudah diatas 60 tahun. Seharusnya pernyataan dari orang yang sudah banyak
pengalaman hidup kan tidak seperti itu. Sudah tidak penting lagi kamulfase,
sudah tidak penting lagi berkata seperti itu. Apa memang sudah jamannya seperti
itu ya , tampilan luar adalah segalanya, gengsi adalah harga mati yang penting bisa
pamer lebih dari orang lain, bisa pamer mempunyai mobil lebih dari satu, sepeda
motor lebih dari satu, perhiasan buanyak dan lain sebagainya.
Kalau memang sekarang jamannya sudah seperti itu, Beranikah kita untuk apa
adanya ………?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar