Sekitar 2 bulan yang lalu saya ditawari sebuah
rumah, maklum saat ini saya masih nomaden atau hidupnya berpindah-pindah dari
satu kontrakan ke kontrakan lain dan itu sudah berlangsung selama 5 tahun. Dan
tawaran tersebut saya respon kemudian setelah melewati beberapa kali pertemuan
untuk nego masalah harga dan lain-lain sekitar 2 minggu dan sukses , akhirnya
rumah itu jadi milikku dalam arti rumah itu saya beli dengan harga yang sudah
disepakati bersama. Dengan surat perjanjian dan 2 orang saksi pada saat
pembayaran dan dibayar tunai. Sebulan kemudian setelah perjanjian itu
ditandatangani, sebagai pemilik ingin rasanya untuk membuat sertifikat tanah
menjadi atas nama saya tentunya, lah disitulah terjadi masalah, pada saat mau di
ukur sama petugas dari desa si pemilik lama bertingkah, dan pada saat itu juga
pemilik lama minta harga dulu yang sudah disepakati dan dibuat perjanjian
diatas materai dengan 2 orang saksi harus dirubah, harganya dinaikkan 90 % dari
harga semula. Gilaaaaaa.. masa harga naik 90 % padahal secara hukum tanah dan
rumah itu sudah jadi milik saya. Singkat kata dari setelah berproses selama
hampir 10 hari saya mengalah saja , uang saya kembali 100% dan tidak jadi
membeli rumah dan tanah tersebut. Setidaknya ada 2 hal yang membuat saya
mengalah untuk tidak jadi membeli tanah dan rumah tersebut yaitu :
- Saya
tidak mau rebut-ribut dengan pemilik lama karena rumah dan tanah tersebut
mau saya tempati dan pemilik lama domisilinya masih satu alamat dengan
rumah dan tanah itu.
- Dalam
perjanjian yang ditandatangani kurang adanya kalimat “ Perjanjian itu
dibuat dengan penuh kesadaran dan
tanpa ada paksaan dari pihak manapun” itulah poin penentu kenapa saya rela
mengalah, karena setalah Tanya kesana kemari , posisi saya lemah.
Akhirnya “RUMAH ITU TIDAK JADI MILIKKU” titik
(sudah tidak ada lagi upaya untuk negosiasi kembali) berarti cari rumah lagi
Kadang apa yang terjadi di sekeliling kita tidak
sesuai dengan apa yang kita harapkan, misalkan saya lagi ingin makan soto ayam
, eee … ternyata tidak punya uang untuk membeli soto ayam tersebut walaupun
harganya Rp. 5000,- . karena apa yang terjadi di sekeliling kita (contohnya
kasus saya diatas) bukan sepenuhnya atas kehendak saya, ada yang mengaturnya,
ada yang mengelolanya , semua berjalan sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.
Biasaya kalau keadaan sekitar tidak sesuai dengan
keinginan hati maka kita merasa sedih, galau, marah, sebel, gundah dan
teman-temannya. Mungkin tidak hanya saya, yang bernama manusia ada
kemungkinan juga akan merasa seperti itu. Selain untuk berusaha mengubah apa
yang terjadi di sekililing kita agar sesuai dengan apa yang kita harapkan
tentunya kita juga harus berusaha untuk menyesuaikan keinginan dengan keadaan
yang terjadi di sekililing kita. Mengubah maksudnya kita berusaha dengan
kemampuan, pemikiran kita, tenaga kita untuk mencapai keingin dan
menyesuaikan maksudnya kita menerima apapun yang terjadi disekeliling kita
setelah maksimal mengusahakannya agar seirama dengan keinginan atau harapan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar