Rabu, 29 Mei 2013

Rumah itu tidak jadi milikku

Sekitar 2 bulan yang lalu saya ditawari sebuah rumah, maklum saat ini saya masih nomaden atau hidupnya berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain dan itu sudah berlangsung selama 5 tahun. Dan tawaran tersebut saya respon kemudian setelah melewati beberapa kali pertemuan untuk nego masalah harga dan lain-lain sekitar 2 minggu dan sukses , akhirnya rumah itu jadi milikku dalam arti rumah itu saya beli dengan harga yang sudah disepakati bersama. Dengan surat perjanjian dan 2 orang saksi pada saat pembayaran dan dibayar tunai. Sebulan kemudian setelah perjanjian itu ditandatangani, sebagai pemilik ingin rasanya untuk membuat sertifikat tanah menjadi atas nama saya tentunya, lah disitulah terjadi masalah, pada saat mau di ukur sama petugas dari desa si pemilik lama bertingkah, dan pada saat itu juga pemilik lama minta harga dulu yang sudah disepakati dan dibuat perjanjian diatas materai dengan 2 orang saksi harus dirubah, harganya dinaikkan 90 % dari harga semula. Gilaaaaaa.. masa harga naik 90 % padahal secara hukum tanah dan rumah itu sudah jadi milik saya. Singkat kata dari setelah berproses selama hampir 10 hari saya mengalah saja , uang saya kembali 100% dan tidak jadi membeli rumah dan tanah tersebut. Setidaknya ada 2 hal yang membuat saya mengalah untuk tidak jadi membeli tanah dan rumah tersebut yaitu :
  1. Saya tidak mau rebut-ribut dengan pemilik lama karena rumah dan tanah tersebut mau saya tempati dan pemilik lama domisilinya masih satu alamat dengan rumah dan tanah itu.
  2. Dalam perjanjian yang ditandatangani kurang adanya kalimat “ Perjanjian itu dibuat dengan  penuh kesadaran dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun” itulah poin penentu kenapa saya rela mengalah, karena setalah Tanya kesana kemari , posisi saya lemah.

Akhirnya “RUMAH ITU TIDAK JADI MILIKKU” titik (sudah tidak ada lagi upaya untuk negosiasi kembali) berarti cari rumah lagi

Kadang apa yang terjadi di sekeliling kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, misalkan saya lagi ingin makan soto ayam , eee … ternyata tidak punya uang untuk membeli soto ayam tersebut walaupun harganya Rp. 5000,- . karena apa yang terjadi di sekeliling kita (contohnya kasus saya diatas) bukan sepenuhnya atas kehendak saya, ada yang mengaturnya, ada yang mengelolanya , semua berjalan sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.


Biasaya kalau keadaan sekitar tidak sesuai dengan keinginan hati maka kita merasa sedih, galau, marah, sebel, gundah dan teman-temannya. Mungkin tidak hanya saya, yang bernama manusia ada kemungkinan juga akan merasa seperti itu. Selain untuk berusaha mengubah apa yang terjadi di sekililing kita agar sesuai dengan apa yang kita harapkan tentunya kita juga harus berusaha untuk menyesuaikan keinginan dengan keadaan yang terjadi di sekililing kita. Mengubah maksudnya kita berusaha dengan kemampuan, pemikiran kita, tenaga kita untuk mencapai keingin dan menyesuaikan maksudnya kita menerima apapun yang terjadi disekeliling kita setelah maksimal mengusahakannya agar seirama dengan keinginan atau harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar