Sabtu, 01 Juni 2013

Akhirnya mata ini tidak tahan…

     Kemarin sehabis bekerja ingin rasanya mampir kerumah ibu, kira-kira sudah seminggu saya tidak main kesana, kebetulan bensin motor saya sudah limit, saya menuju penjual bensin di desa saya yang terdekat, setelah sampai saya beli 1 liter 5000 rupiah, pak bensin 1 pak, ternyata penjualnya sudah kakek-kakek, karena tidak tega, pada waktu kakek itu mau ngambil botol bensin saya menyodorkan tangan saya untuk mengabil botol tersebut dan saya tuang sendiri ke tanki bensin, setelah itu saya bayar, tidak lupa saya menanyakan kabar kepada kakek itu “keluarga pada sehat pak” terus dianya kaget, o iya sehat dan pada waktu menatap saya dia agak heran dan terus menepuk bahu saya, kemudian si kakek malah curhat kesaya begini :

Dulu mbah kamu itu banyak sekali menolong saya, pernah juga meminjami saya uang 160 rupiah, dan bla blab bla…… panjang sekali, saya ya hanya manggut-manggut saja sekedar menanggapi, sekali-kali merespon Ooo… begitu ya …., terakhir yang membuat saya tidak tahan dia mendoakan saya “ Mas pri.. semoga kamu bisa sukses, bisa hidup berkah, diberi keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat, semoga selalu  diberi kemudahan” doa itu terucap begitu tulus, expresi wajahnya pun begitu lugu, saya terharu, saya tertunduk dan Akhrinya mata ini tidak tahan membendung air mata, menetes juga. Pada waktu itu tidak ada perasaan malu meneteskan air mata di pinggir jalan. Momen itu berakhir setelah saya sadar ada 3 orang yang ngantri mau beli bensin dan memandang aneh kepada saya, entah apa yang ada di pikirannya saya tidak tahu.

Mbah saya seperti apa saya juga tidak tahu, karena begitu saya lahir mbah saya sudah tidak ada atau ada tetapi saya tidak ingat, karena masih kecil. Jaman sekarang orang seperti kakek penjual bensi itu sungguh jarang, mental-mental seperti kakek itu sudah hampir punah, bayangkan saja sama saya yang tidak pernah bercerita dengan kakek penjual bensin itu, yang beda generasi dia masih ingat bahwa dulu mbah saya pernah berjasa, pernah menolong kakek itu. Dulu kakek tersebut merupakan orang yang disegani, dihormati oleh penduduk, sekarangpun masih.

Itu yang membuat saya terharu betapa budi baik dari orang lain masih dia ingat, masih di rasakan sampai sekarang bahkan sampai ke anak cucunya, dia masih merasa dulu mbah saya pernah menolongnya. Sekali lagi sungguh-sungguh luar biasa moral, mental seperti kakek penjual bensin itu. Patut kita contoh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar