Kemarin sehabis bekerja ingin rasanya mampir kerumah
ibu, kira-kira sudah seminggu saya tidak main kesana, kebetulan bensin motor
saya sudah limit, saya menuju penjual bensin di desa saya yang terdekat,
setelah sampai saya beli 1 liter 5000 rupiah, pak bensin 1 pak, ternyata
penjualnya sudah kakek-kakek, karena tidak tega, pada waktu kakek itu mau
ngambil botol bensin saya menyodorkan tangan saya untuk mengabil botol tersebut
dan saya tuang sendiri ke tanki bensin, setelah itu saya bayar, tidak lupa saya
menanyakan kabar kepada kakek itu “keluarga pada sehat pak” terus dianya kaget,
o iya sehat dan pada waktu menatap saya dia agak heran dan terus menepuk bahu
saya, kemudian si kakek malah curhat kesaya begini :
Dulu mbah kamu itu banyak sekali menolong saya, pernah juga meminjami saya
uang 160 rupiah, dan bla blab bla…… panjang sekali, saya ya hanya manggut-manggut
saja sekedar menanggapi, sekali-kali merespon Ooo… begitu ya …., terakhir yang
membuat saya tidak tahan dia mendoakan saya “
Mas pri.. semoga kamu bisa sukses, bisa hidup berkah, diberi keselamatan di
dunia dan keselamatan di akhirat, semoga selalu
diberi kemudahan” doa itu terucap begitu tulus, expresi wajahnya pun
begitu lugu, saya terharu, saya tertunduk dan Akhrinya mata ini tidak tahan
membendung air mata, menetes juga. Pada waktu itu tidak ada perasaan malu
meneteskan air mata di pinggir jalan. Momen itu berakhir setelah saya sadar ada
3 orang yang ngantri mau beli bensin dan memandang aneh kepada saya, entah apa
yang ada di pikirannya saya tidak tahu.
Mbah saya seperti apa saya juga tidak tahu, karena begitu saya lahir mbah
saya sudah tidak ada atau ada tetapi saya tidak ingat, karena masih kecil.
Jaman sekarang orang seperti kakek penjual bensi itu sungguh jarang,
mental-mental seperti kakek itu sudah hampir punah, bayangkan saja sama saya
yang tidak pernah bercerita dengan kakek penjual bensin itu, yang beda generasi dia masih ingat bahwa dulu mbah
saya pernah berjasa, pernah menolong kakek itu. Dulu kakek tersebut merupakan orang yang disegani, dihormati oleh penduduk, sekarangpun masih.
Itu yang membuat saya terharu betapa budi baik dari orang lain masih dia
ingat, masih di rasakan sampai sekarang bahkan sampai ke anak cucunya, dia
masih merasa dulu mbah saya pernah menolongnya. Sekali lagi sungguh-sungguh
luar biasa moral, mental seperti kakek penjual bensin itu. Patut kita contoh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar