Coba baca dengan pelan-pelan dan direnungkan judul diatas, bukankah itu
seharusnya bukan menjadi sebuah keanehan, sebuah kesalahan, sebuah dosa. Bukankah
kucing ya ekornya panjang.
Tetapi ini terjadi di sebuah desa yang disitu semua kucing dipelihara oleh pihak desa , ada pengurusnya ada petugasnya untuk menangani semua kucing yang ada di
desa dan tidak boleh ada kucing lain masuk kedesa tersebut.
Begini ceritanya :
Beberapa generasi yang dulu sesepuh desa rapat mengenai kucing, karena penduduk
desa menyukai kucing. Dan rapat tersebut menghasilakan keputusan bahwa setiap kucing
yang ada di desa ini ekornya harus dipotong tidak boleh ada kucing yang punya
ekor panjang. Karena untuk membedakan dengan kucing desa tetangga. Setiap ada
kucing yang lahir ekornya langsung dipotong oleh panitia desa, setelah beberapa
generasi warga desa tersebut tidak mengetahui bahwa ada prosesi pemotongan ekor kucing dan yang mengetahui hanya panitia desa serta orang-orang tertentu dan informasi itu tidak
boleh dibocorkan kepada warga, hanya boleh diberitahu kepada calon pengganti
panitia dan pengurus desa, warga tidak ada yang berani menanyakan perihal ekor kucing itu.
Kemudian pada saat ini, jaman modern dimana arus informasi begitu cepat,
era demokrasi begitu terasa, setiap orang, setiap individu, setiap warga berhak
mengeluarkan pendapatnya, berhak untuk bersuara. Suatu hari ada kucing dari
desa tetangga yang berhasil masuk ke desa tersebut dan terliahat oleh warga
desa tersebut. Kontan saja warga jadi gempar, warga jadi gelisah, melihat ada
kucing ekornya panjang, kemudian munculah pertanyaan tadi “KOK ADA KUCING
EKORNYA PANJANG ?”
Banyak sekali warga merespon kalau dikumpulkan kira-kira responya begini :
1. Wah ada kucing siluman , masa kucing ada ekornya
2. Wah ada kucing jadi-jadian , masa kucing ekornya panjang
3. Wah ada kucing aneh , ekornya panjang dan masih banyak
lainnya.
Akhirnya warga berame-rame memburu kucing tersebut untuk ditangkap, pada
main hakim sendiri tanpa bertanya kepada panitia desa atau pengurus desa.
Padahal yang sebernarnya adalah kucing itu ya ada ekornya, kucing itu ya
ekornya panjang, warga desa hanya salah paham karena selama ini setiap kucing
yang ada di desa tersebut tidak ada ekornya.
Dari cerita diatas mungkin sangat mirip dengan keadaan sekarang , apanya
yang mirip ?
Bahwa yang sebenarnya kejujuran itu sebuah kebenaran, tidak mau korupsi itu
sebuah kebenaran, loyalitas itu sebuah kebenaran dan masih banyak
kebenaran-kebenaran lain yang pada masa ini dianggap aneh, dianggap aliran baru,
dianggap tidak mengikuti jaman, dianggap tidak punya solidaritas dengan teman
dan sebagainya.
Orang tidak mau korupsi dianggap orang aneh, orang berlaku jujur katanya
hancur, orang pakai jilbab sesuai aturan dianggap bi’dah dan dianggap aliran
aneh, orang beribadah rutin dianggap sok –so’an, orang suka memberi dianggap
pamer, orang suka menolong dianggap ada maunya dan masih banyak lagi
Bahwa pada saat ini kebenaran seperti itu sudah dianggap aneh (bahwa ada
kucing ekornya panjang itu aneh) karena hanya beberapa orang saja yang tahu
kebenaran itu (hanya panitia desa saja yang tahu bahwa kucing itu
ekornya panjang) yang lain tidak mau membukan hati dan pikiran untuk menerima
yang baru, walaupun itu sebuah kebenaran, sudah menutup hati dan pikiran yang
ada meraka sudah taklid dengan aturan yang sudah ada walaupun aturan itu bukan aturan
yang seberarnya.
Kenapa begitu ? saya pernah mendengan bahwa “ KEBURUKAN DIUCAPKAN SEBAGAI KEBAIKAN
SERIBU KALI MAKA AKAN MENJADI SEBUAH KEBAIKAN”
maksudnya mereka sudah tidak merasa melakukan sebuah keburukan apabila
melakukan keburuan itu karena keburukan itu sudah menjadi hal yang umum
dimasyarakat.
Semoga kita semua bisa menerima hal yang baru yang merupakan kebenaran
sesungguhnya, walaupun perlu banyak pengorbanan. Amiin
Astaqfirullohhalazimmm... apakah aku termasuk golongan orang yang hanya beranggapan bahwa kucing selalu berekor pendek... MasyaAlloh... tulisanne top markotop ... mengena
BalasHapus